Rabu, 08 Mei 2013

Sorot Sinar Senja Bersamamu



Pantai Karang Taraje

Aku ingin menuliskan aksara tentang kehidupan  sore di ruang sempit, entah apa yang ada dibenak ku seolah aku resah, tak begitu jelas apa yang ku pikirkan dalam otak ku, seperti merindukan kegembiraan tertawa yang lepas seolah melepaskan beban dalam pusat hati yang dipenuhi kerinduan tapi tak jelas apa yang aku rindukan sudah tiga tahun sudah aku menjalani hidup jauh dari kampung halaman tercinta, tak seperti biasa kenapa hatiku merasa gelisah, aku ingin menceritakan rasa hati ini kepadamu, tapi mustahil ku bisa bercerita bercanda gurau denganmu apalagi sampai berjalan – jalan menikmati sore yang indah dipenuhi sorot sinar senja akhhh,,,,itu hanya sebuah ilusi dan hayalan belaka, aku hanya lah kekeringan yang merindukan siraman air yang menyegarkan, Nov....dimana kini kau berada..?? tak rindukah kamu padaku..?? begitu banyak kisah yang kulalui semenjak berpisah denganmu itu semua ku lakukan hanyalah untuk bisa melupakanmu, tapi memori indah yang pernah kita lewati bersama terus bergentayangan seperti bulan merindukan bintang  yang saling menerangi. aku selalu menyimpan rindu yang tak pernah terbalas hingga akhir nanti kita bertemu dan bercerita tentang masalalu dan aku beraharap kamu mau menjadi ibu dari anak - anak ku, tapi lagi - lagi aku menajadi kemarau yang merindukan hujan, bersambung.....!

Senin, 06 Mei 2013

Tugas Ku di Buang Jangan


Kampus Negeri Satu - Satunya di Banten

Ketika kesepahaman dalam kelompok menjadi salah satu perdebatan yang panjang tak pernah berujung, ke egoisan yang muncul dalamsetiap individu tak terkendali lagi, aku yang menginginkan hasil yang memuaskan tetapi terhalang oleh ke egoisan pendapat yang hanya menginginkan kesederhanaan dan menggurkan kewajiban, memang susan mengadul dengan orang yang beralatar belakang kaya raya dan memiliki bapak mempunyai jabatan yang sangat vital di kampus, aku hanyalah mahasiswa pendatang dari kampung yang ingin meraih kesuksesan harus mengalah karena memandang kasta yang sangat jauh berbeda, apakah derajat manusia selalu dilihat dari kasta?? Seberapa hinanya oarang yang memiliki pendapat tetapi dia hanya mahasiswa biasa?? Memang benar – benar lucu kampus ku..ketika yang tak mempunyai hubungan keluarga dengan para pejabat – pejabat ketika mereka mempunyai masalah maka harus bersiap – siap untuk meminta dan memohon ampunan, seberapa agungkah jabatan yang dimiliki kamu wahai para pejabat, ingat kita hidup didunia hanyalah sesaat kita pasti merasakan dunia akhirat kita takan pernah bisa mengelak dan menghindar dari suratan takdir yang sudah di tuliskan dalam Al- quran, alangkah sombongnya kamu wahai....!!!! pejabat, ingat......!!!! dunia ini selalu berputar begitupun dengan roda kehidupan mungkin saja saat ini kamu sedang diatas, akau hanya berkata selamat menikamati jabatanmu dan selamat menikamati kesomabongan serta kenagkuhanmu....!!!!! dan roda kehidupan terus berputar pada poros nasib dan keberuntungan.

Negeri Para Pencari Harta



Big Boss.......!!!

Benar – benar sangat mengerikan sekali melihat bangsa kita saat ini, bangsa yang kaya raya dengan kekakayaan alam yang sangat berlimpah tetapi rakyat tetap menjadi miskin dan menjadi babu di negeri sendiri, kaum berduit dari luar berdatangan dengan penuh semangat untuk mencari keuntungan di negeri yang katanya kaya akan kekayaan alamnya, meliahat Fenomena ini sangat membuat geram bagi yang mempunyai jiwa yang nasionalis, apakah rakyat kita tak pantas untuk mendapatkan kehidupan yang layak memiliki penghasilan yang layak di negeri nya sendiri yang katanya kaya raya, apakah sarjana ekonomi di indonesia sudah tak ada? Setiap tahun dari berbagai universitas indonesia mencetak beribu – ribu sarjana ekonomi tapi samapai saat ini perekonomian bangsa kita masih sangat jauh tertinggal dari negara berkembang yang lainnya, para pejabat yang seakan tutup mulut dengan bertopengkan buka mata berpura – pura ingin mensejahtrakan rakyat tetapi sampai saat ini masih belum memberikan solusi yang menjadi harapan rakayat, apakah jenjang pendidikan rakyat indonesia banyak yang tidak layak untuk menjadi pekerja yang bermartabat di mata bangsa. Begitu banyak angka pengangguran di indonesia, bahkan tidak sedikit yang lulusan sarjana tidak mendapatkan pekerjaan sebagaimana mestinya karena sistem di kita sudah tak lagi berlandaskan asas norma agama, norma hukum, begitu banyak lulusan sarjana yang depresi karena usaha mereka untuk mendapatkan pekerjaan sia – sia, apalagi dengan adanya sistem yang ada uang bisa kerja tak ada uang sudah menjadi pengangguran saja, mau bayar pakai apa kalau setiap lulusan sarjana ketika ingin mendaptkan pekerjaan harus menggunakan uang, toh uang di pakai kuliah pun sudah Ludesssssss!!!! Kapan semua ini berakhir wahai...!! para Raja tak maukah sedikit saja kamu menolehkan matamu untuk meliahat rakyat yang susah untuk hidup di negerinya sendiri ini, orang bilang tanah kita tanah surga, tapi rakyat nya bilang tanah ini adalah neraka, bahkan lebih seram daripada neraka jahanam dimana tempat orang – orang yang biadab, tempat orang – orang yang tak mempunyai rasa pri kemanusian dan pri keadilan, kapankah semua ini berakhir........?????

Kamis, 02 Mei 2013

Lorong Gelap di Mataku

Gunung Pasir Suung, Cikotok, Kec. Cibeber, Kab. Lebak

Minggu, Maret 2010
Tak begitu jelas kutangkap kelebatmu yang melintas begitu saja di hatiku. Hanya sepi yang begitu pekat melayang-layang di punggungmu. Menebarkan aroma dingin yang menjalar ke mataku, menggigilkan sekujurku. Tak tahukah engaku, kalau embusan lembut angin pagi yang memaksa berdiri bulu-bulu di tengkukmu, adalah sebagian napas yang kulepaskan sebelum kamu lelap?!
Ia cuma bergeming sambil tak lepas matanya menatap lekat - lekat perempuan yang berjalan menjauh itu. Namun, dari riak air mukanya, nampak terpendar kemilau matahari pagi, dan seolah ia sedang merayakan sesuatu, atau barangkali ia tengah bergembira. Ya, barangkali ia sudah senang bukan kepalang meski cuma melihat punggung perempuan itu.
 Tak banyak yang bisa ia lakukan, selain terus manatap punggungnya, memperhatikan langkahnya, lalu sedikit menyenyum, dan mulai berkhayal yang bukan-bukan. Menghayalkan perempuan itu menjadi kekasih yang mengerti keadaannya, mau menerimanya apa adanya, mendampinginya ke mana pun, dan seterusnya, dan seterusnya. Akan tetapi, itu hanya sebatas lamunan, karena toh ia sendiri tak pernah bernyali untuk sekadar menyapanya, menanyakan kabarnya. Ia penakut, atau lebih tepatnya pengecut........!!!
Dan setelah perempuan itu lenyap, tak lagi bisa ditangkap matanya yang rabun, ia mulai menulis. Barangkali sebuah puisi. Atau mungkin juga sebuah catatan untuk sekadar mengawetkan pertemuannya dengan punggung perempuan itu.
Sementara, matahari di atas kepalanya semakin terik menyengat. Tetapi ia nampak tak peduli, meski keringatnya menyembul dari kening, dada, punggung, ketiak. Dan bau tubuhnya yang jarang tersentuh air dan sabun itu meruapkan bau tak sedap.
*  *  *
Senin, Maret 2010
Hanya ruang hampa yang menari-tari di pundakmu. Tak ada punggung yang menyimpan sketsa rindu sebab kamu diapit dua Lelaki lain di depan dan di belakangmu. Tidakkah kamu mau menoleh ke arahku sebentar saja?
Lagi, ia cuma bergeming sambil tak lepas matanya menatap lekat - lekat salah satu Lelaki di atas sepeda motor itu. Namun, dari sorot matanya, nampak terpendar kemilau matahari senja, dan seolah ia kembali merayakan sesuatu, atau barangkali ia tengah bergembira. Ya, barangkali ia sudah senang bukan alang kepalang meski cuma melihat pundak perempuan itu.
Dan selalu, ia tak melakukan apa pun, selain terus manatap pundaknya, memperhatikannya menjauh, lalu sedikit tersenyum, dan mulai berkhayal yang tidak - tidak. Menghayalkan perempuan itu menjadi kekasihnya, menjadi istrinya, menjadi ibu dari anak-anaknya, dan seterusnya, dan seterusnya. Akan tetapi, lagi - lagi itu hanya sebatas lamunan, karena sampai hari ini ia masih belum bernyali untuk sekadar menyapanya, menanyakan kabarnya. Ia tatap pengecut!
Dan setelah perempuan itu lenyap, tak lagi bisa ditangkap matanya, ia kembali menuliskannya. Barangkali sebuah prosa. Atau mungkin juga sebuah catatan untuk sekadar mengawetkan pertemuannya dengan pundak perempuan itu.
Sementara bau tubuhnya telah benar-benar mengalahkan sengatan matahari.

*  *  *
Selasa, Maret 2010
Tak ada yang bisa kutulis mengenai pertemuanku denganmu. Ke manakah kamu hari ini? Mengapa kamu tak melintas atau berkelebat lagi seperti kelelawar yang tengah memburu buah yang ranum?
Non, adakah kamu menyimpan kerinduan di balik kulit randu? Ah, mungkin saja tidak, sebab kamu terlampau sibuk, terlampau tak peduli, sehingga mungkin tak ada lagi ruang dalam dirimu untuk bersemayam seekor melata bernama rindu.
Adalah ia yang kini termenung sendiri di bawah pohon ranggas. Dan masih saja bersikeras membuat catatan kecil meski ia tak bertemu perempuan itu. Dan entah mengapa, selalu saja ada yang dicatatnya. Barangkali sebuah harapan. Atau mungkin juga sebentuk kegelisahan yang coba dicairkan.
Sementara angin yang berkesiur melambaikan rambutnya, menjatuhkan sehelai daun yang sudah kuning kecoklatan di depannya. Dan ia masih saja termenung. Tapi kemudian, dipulungnya juga daun itu setelah ia mengiranya sebagai cenderamata yang dititipkan kekasihnya.
*  *  *
Rabu, Maret 2010
Non, jangan membuatku gila karena tak lagi melihatmu! Aku kangen. Tak adakah waktu luangmu—sedetik saja—untukku, untuk kita, agar aku dapat menguak segalanya?
Ia lunglai. Terhuyung - huyung, seperti seorang pemabuk sehabis menenggak bergalon-galon alkohol. Dan kakinya itu, nampak berat atau dibebani sesuatu, hingga ia terpaksa menyeret - seretnya.
Pun, kulit wajahnya nampak murung, kerut - kemerut. Tak ada lagi pendar matahari pagi di sana, yang menyisa cuma gumpalan awan di musim penghujan yang telah lama menyimpan uap, tapi sebelum sempat menjatuhkan bebulir airnya satu - satu.
Barangkali, di dalam kepalanya itu, sedang terjadi sebuah pertaruangan antara dua pendekar pilih tanding. Peperangan yang memakan waktu cukup lama, dan hampir tak ada jeda. Mesti ada yang mati baru berhenti. Dan yang tersisa cuma jejaring otaknya yang terputus, remuk, carut-marut.
*  *  *
Kamis, Maret 2010
Aku melihatmu! Bahkan, bukan cuma punggung atau pundak yang senyap itu, tetapi sejuring pipi kirimu, akhirnya dapat juga dirasakan mataku. Terima kasih, meski mungkin kamu tak hendak membenturkan matamu pada mataku. Sebab mata adalah mula segala membaca. Takutkah kamu?
Ia sumringah, raut wajahnya terlihat cerah dan bersemangat. Dari bola matanya, terlihat kunang - kunang berlompatan. Seperti reriak air kali tertimpa cahaya ketika purnama raya.
Namun, ia tak juga beranjak dari posisinya untuk sekadar menyapanya. Ia kukuh pada duduknya semula, seakan itulah zona nyaman yang dimaunya selama ini. Dan ia tak peduli pula pada suara-suara yang riuh rendah di ruang pertunjukan itu.



*  *  *
Jum’at, Maret 2010
Semuanya kandas. Tak ada lagi yang harus kutulis. Ludes! Sebab mata kita telah bersirobok. Dan aku dapat melihatnya di lorong matamu. Sebuah nuansa yang tak damai, seolah lorong yang hendak kumasuki itu menggaritkan keterasingan dan kengerian. Ada sesuatu yang ganjil di sana. Barangkali mambang. Barangkali sesuatu yang runcing, bersudut rumit. Tak mudah diperkirakan apalagi diurai.
Ia terperangah. Bengong melompong melihat perempuan yang selama ini dikuntitnya, beradu ketajaman mata dengannya. Tetapi, dari riak air mukanya ia nampak tak bergembira. Barangkali, ia memang lebih menikmati kekagumannya pada perempuan itu, menumpuk keresahan dan keinginan-keinginan yang tak pernah bisa ia mengerti. Dan barangkali, ia lebih menyukai berburu ketimbang menikmati hasil buruan. Atau ia telah mendapati sesuatu yang mengerikan sekaligus menakjubkan di balik mata perempuan itu?
*  *  *
Sabtu, Maret 2010
Telah kuputuskan, bahwa kita tak usah lagi saling memandang apalagi merindukan. Sebab kamu terlampau canggih untuk makhluk bodoh sepertiku. Sebab mawar tak boleh tumbuh di atas kotoran kerbau. Maka, bolehkan aku melanjutkan perjalanan demi sebuah capaian mahatinggi.
Ia terbaring lemah di kamarnya yang senyap dan poranda. Hanya gerak bola mata, dengus napas, dan kedipannya saja yang menjadi pertanda bahwa malaikat maut masih enggan mendekapnya. Selebihnya, tak ada lagi rindu atau sekadar rasa penasaran. Ia menginginkan yang lebih tinggi dari sekadar kekasih…. Tapi, barangkali ia tak tahu apa yang lebih maha dari kekasih. Entahlah! 
*  *  *
Minggu, Maret 2010
Akkhhh…! Non, ijinkan aku buta dan bahagia.
Dilihatnya perempuan itu bergandeng mesra dengan seorang atau sesuatu yang asing yang tak dikenal dan tak dikehendakinya. Dan ia pun ambruk. Barangkali ada yang retak pada dirinya, atau malah ringsek sama sekali. Kedua telapak tangannya hanya menelungkup pada wajahnya yang sepucat mayat. Seperti tak ingin melihatnya sama sekali. Seperti benar-benar menghendaki kebutaan pada matanya.
Sejurus, tangannya agak tremor dan tubuhnya nampak berguncang hebat. Sementara dari sela - sela jemari tangannya yang masih menutupi muka, mengalir cairan sewarna darah. Menetes-tetes.




Potret Dunia Pendidikan Indonesia

Foto Siswa Kelas 3 B SDN Ciparay ( Cinangka, Serang, Banten )

Hampir satu minggu ini, saya bergelut dengan sebuah pekrjaan yang sampai saat ini belum juga terselesaikan. Pekerjaan ini cukup berat dan penuh tanggung jawab, namun apa lah daya tubuh pun mulai terasa lelah. Dalam istirahat yang sejenak ini, saya ingin menulis sebuah artikel. Semoga saja mengalir apa yang terseirat di kepala agar menjadi sebuah tulisan.
Teringat pada diskusi bersama teman-teman diwaktu-waktu yang lalu, tentang liberalisasi dunia pendidikan Indonesia dibawah situasi Negara, yang sampai saat ini belum juga lepas dari cerita tentang ketertindasan sebuah bangsa. Semoga saya berhasil mendokumentasikan secara singkat tentang kondisi yang saya maksud tadi.
Tentu saya tidak akan memulai penjabaran ini dari sejarah. Memang setiap kita mesti hapal tentang sejarah bangsa ini mengenal dunia pendidikan. Tapi yang saya ingin kupas pada tulisan ini lebih pada dinamika serta perkembangan dunia pendidikan Indonesia dalam proses menuju orientasi atau output yang sesungguhnya.
Dibeberapa literatur, saya menemukan bahwa; “pendidikan merupakan sebuah media untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan rakyat, sekaligus sebagai suatu instrument yang akan melahirkan tenaga-tenaga yang akan menjadi penopang laju perkembangan kehidupan bangsa. Pendidikan harus juga menjadi factor pendorong bagi kemajuan peradaban menuju masyarakat yang sejahtera, berkeadilan, berdaulat dan demokratis”.
Dari ungkapan tersebut, dunia pendidikan ternyata tidak bisa lepas dari kendali sebuah Negara yang di pimpin oleh kelas yang sedang berkuasa. Karenanya, pendidikan merupakan bagian dari tanggung jawab Negara, tentu akan di atur sedemikian rupa, baik dari segi pembiayaan sampai pada konsep pendidikan itu sendiri.
Potret Pendidikan di Indonesia
Problem Dunia Pendidikan Saat Ini
Banyak kalangan menilai bahwa, Negara indoensia saat ini masih terikat oleh belenggu imperialisme atau praktek penjajahan gaya baru. Tentu berbagai kebijakan yang dilahirkan oleh penguasa (Negara), tidak terlepas dari andil dan intervensi dari imperialisme tersebut.
Imperialisme hadir dalam dalam sosok Negara-negara maju seperti AS, Inggris, Kanada, Jepang, Koorsel, Spanyol, Prancis, Italia dan sekutunya. Selain itu, juga hadir dalam bentuk lemabaga-lembaga donor internasional seperti Word Bank, IMF dan WTO.
Artinya,secara otomatis orientasi dari dunia pendidikan Indonesia akan di arahkan pada kepentingan Negara-negara imperialisme tadi. Kebijakan-kebijakan yang dilahirkan pun tidak lah terkonsentrasi pada konteks dari pelaksanaan pendidikan itu sendiri, melainkan hanya merupakan bingkisan kebijakan yang di balut oleh kepentingan dari Negara imperialisme.
Pada Tahun 2001 Pemerintah Indonesia telah meratifikasi kesepakan tentang perdagangan jasa (General Adjustment On Trade and Service/GATS). Di mana dunia pendidikan dimasukkan menjadi salah satu dari 16 komoditas (barang dagangan). Dengan demikian, para investor dapat menanamkan investasinya disektor pendidikan (terutama pendidikan tinggi).
Lahirnya kebijakan di sector pendidikan, tidak terlepas dari kepentingan Negara imperialism dalam proses liberalisasi sector pendidikan di Indonesia. Dalam kesepakatan untuk kucuran hutan (Letter of Intent/LOI) dari IMF, pada tahun 1999, terdapat kesepakatan bahwa pemerintah harus mencabut subsidi untuk sector pendidikan dan kesehatan.
Selanjutnya, juga melalui Bank Dunia, Pemerintah Indonesia telah mendapatkan kucuran hutang sebesar $ 114,54 untuk membiayai program Indonesian Managing Higher Educaion for Relevance and Effeciency. Kesepakatan ini di tanda tangani pada bulan Juni 2005. Program ini bertujuan untuk mewujudkan otonomi perguruan tinggi, efesiensi dan relevansi dengankebutuhan pasar. Word Bank menilai, bahwa pendidikan terlalu menyedot banyak anggaran, maka subsidi di sector pendidikan harus di pangkas.
Skema leberalisasi ini telah di uji cobakan di beberapa Universitas Negeri terkemuka di Indonesia, PT BHMN (Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum Milik Negara). Praktek ini kemudian di lindungai oleh PP No 60 tahun 1999 Tentang Perguruan Tinggi dan PP No 61 Tahun 1999 tentang Perguruan Tinggi Sebagai Badan Hukum.
Namun, pemberlakuan PT BHMN ini tidak mebawa dampak yang signifikan terhadap perubahan kualitas pendidikan Indonesia. Pada kenyataannya, Universitas yang diharapkan menjadi cetak biru pendidikan Indonesia ini hanya menyisakan mahalnya biaya pendidikan serta marak nya praktek-praktek privatisasi/kmersialisasi di dunia pendidikan.
Kebijakan liberalisasi sector pendidikan Indonesia
Beberap kebijakan yang lahir untuk sector pendidikan, telah menuai protes dari banyak pihak, terutama dari kalangan pemuda-mahasiswa. Karena rentetan kebijakan tersebut mengandung semangat liberalisasi atau melemahnya tanggung jawab Negara terhadap dunia pendidikan di Indonesia.
Berawal dari mandate UU No 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional, dalam pasal 53, telah mengamanatkan untuk dilahirkannya Undang-undang Badan Hukum Pendidikan yang di disahkan pada bulan desember 2008 lalu. Undang-undang ini merupakan sebagai bentuk paling vulgar dari lepasnya tanggung jawab Negara terhadap dunia pendidikan. Pendidikan kemudian akan menjadi tanggung jawab bersama antara pemrintah dan masarakat.
Terjadi beberapa kali perubahan draft dalam rancangan UU BHP ini, namun tidak juga menghilangkan hakekat dari pengesahan UU tersebut. penyelenggaraan pendidikan kemudian hanya dinilai sebagai aktivitas perdagangan dan miniature sebuah perusahaan yang lengkap dengan hubungan inustrialnya.
Karena sekali lagi, dengan dinamakannya Badan Hukum, maka orientasinya adalah bagaimana mendapatkan keuntungan dari aktivitas pendidikan tersebut. Hal ini syarat akan unsure diskriminasi terhadap warga Negara, di mana semakin lemahnya akses atas pendidikan bagi keluarga yang kurang mampu. Tentu sangat bertentangan dengan amanat konstitusi yang tertuang dalam pasal 31 UUD 45.
Aksi-aksi protes pun kian memanas di seluruh penjuru negeri. Pihak yang kontra terhadap UU ini mayoritas berasal dari kalangan pemuda-mahasiswa. Sedari awal dirancangnya UU BHP, gelombang perlawanan pemuda-mahasiswa pun tak kunjung redam. Meski pada akhirnya UU BHP tetap disahkan.
Pada pertengahan Maret 2010, tersirat kabar tentang pencabutan UU BHP. Namun berita tentang penacabutan ini tidak membuat pihak yang kontra BHP menjadi lega. Karena semangat komersialisasi dan privatisasi sudah terlanjur ditanamkan. Maka lahirlah produk hukum terbaru yang bernama Rancangan Undan-undang Perguruan Tinggi, sejak awal 2011 lalu.
RUU ini pada akhirny disahkan pada pertengahan Juli 2012 lalu menjadi Undang-undang Pendidikan Tinggi. Secara prinsip, dishkannya UU ini juga mengandung semangat lepasnya tanggung jawab Negara terhadap dunia pendidikan.
Perguruan Tinggi terus didorong untuk menyelenggarakan pendidikan secara mandiri. Sementara pemerintah hanya mengalokasi 2,5% anggaran untuk sector pendidikan. Bagi PTN dan PTS, alokasi anggaran tesebut meliputi pembiayaan investasi, pegawai, operasional dan pengembangan institusi (dalam Pasal 89).
Faktanya, dari APBN-P 2012, anggaran pendidikan sebesar RP.285 triliun, namun hanya dialokasikan untuk pendidikan tinggi sebesar Rp. 5 Truliun. Jika dibagikan ke seluruh perguruan tinggi yang mencapai jumlah 3.150, tentu angka Rp.5 Triliun tadi merupakan jumlah yang sangat terbatas. Selanjutnya, dalam UU tersebut juga telah diatur bahwa, setiap PTN dan PTS memiliki kewenangan untuk menetapkan jenis biaya pendidikan dilaur penyelenggaraan pendidikan (SPP).
Selain itu, UU ini juga merupakan manifest dari skema Imperalisme atas perdagangan tenaga kerja, melalui program fleksibelitas pasar tenaga kerja (labour market flexibellity/LMF). Skema tersebut menempatkan dosen dan tenaga kerja pendidikan dalam system kerja kontrak dan outsourching. Selin itu, mahasiswa menjadi sasaran perdagangan tenaga kerja bagi pihak kampus atau pemerintah secara langsung.
Banyak sekali dampak yang akan muncul dari kebijakan ini. Terutama adalah, semakin sempitnya akses rakyat atas pendidikan. Berdasarkan data BPS Maret 2011, Pemuda Indonesia yang berusia 19-24 tahun berjumlah25,404 juta jiwa. Sedangkan jumlah penduduk miskin per Maret 2011 sejumlah 30,5 juta jiwa, dengan pendapatan perkapita sebesar Rp.233.740 perbulan. Artinya kenyataan demikian, bagi calon peserta didik yang berasal dari keluarga tidak mampu dan tidak memiliki prestasi akademik, dipastikan tidak akan dapat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Imbas dari kebijakan di sector pendidikan yang kian buruk ini, akan semakin pahit dirasakan oleh rakyat Indonesia, terlebih masyarakat yang tergolong lemah secara ekonomi.
Sampai saat ini, perlawanan terhadap Undang-undang ini terus dipopulerkan oleh kalangan massa rakyat yang kontra terhadap UU PT ini. Semoga kajian serta analisis terhadap masalah ini terus berlanjut, demi terwujudnya system pendidikan berorientasi pada tujuan pendidikan yang sesungguhnya.
Selamat Hardiknas Semoga Pendidikan di Negeri JAWARA Bisa Lebih Baik Lagi dari Sebelumnya........!!!!!!!